Expression of Donard : A Better World is Possible

Blog EntryPelajaran (Lain) dari HowardNov 11, '07 5:48 PM
for everyone

Pelajaran (Lain) dari Howard

Donard Games

 

            Kompas 12-11-2007- Ketika kontroversi tampilnya seorang model belia berumur 13 tahun di Australia merebak, Perdana Menteri Australia John Howard menyebut bahwa ia…”menentang itu sepenuhnya dan percaya semua orang Australia sepakat dengannya”. Pesaing Howard dalam pemilihan nanti, Kevin Rudd, berkomentar bahwa perhatiannya adalah tentang hilangnya masa remaja model tersebut.

            Menanggapi hukuman mati pada pelaku Bom Bali, Rudd melalui pembantunya McClelland, sempat menyebut bahwa mereka konsisten mendukung penghapusan hukuman mati meskipun kemudian ditambahi oleh Rudd bahwa kebijakannya dalam hal ini sama dengan Partai Liberal dan mereka tidak akan ikut campur terhadap putusan hukum Indonesia. Howard, 68 tahun, dengan sigap berkomentar dirinya tidak akan ikut-ikutan membela pembunuh rakyat Australia seraya menyindir ‘me-too’ policy dari rivalnya.

Bisa dilihat bahwa Howard masih seperti dulu : tajam, lugas, dan  langsung-yang disebutnya sebagai gaya Australia. Tidak kalah dengan Rudd yang lebih muda 18 tahun, Howard terlihat masih bugar. Lebih penting lagi, tidak banyak perbedaan penting yang bisa ditampilkan antara Howard dan Rudd selain perbedaan usia mereka. Terlepas dari kritik terhadapnya, banyak orang berpikir Howard adalah PM yang sukses dalam memimpin negaranya selama 11 tahun terakhir ini dan bahkan bisa jadi paling sukses dalam sejarah Australia.

Jika memang Howard masih memiliki ‘potongan’ sebagai PM dan jika memang dia sebagus itu, mengapa banyak orang menyebut era Howard sudah berakhir dan bahwa dia telah kehilangan sentuhannya terutama terhadap kaum muda Australia? Jajak pendapat terakhir mengkonfirmasi : 55 persen pemilih usia 18-34 tahun memilih Rudd. Sederhana saja. Kalau memang nanti Howard kalah, itu semacam perwujudan dari ucapan pemilih yang kira-kira seperti ini, “ Mr Howard anda memang bagus, tapi Anda terlalu lama menjabat sebagai PM dan ini saatnya berhenti. Terima kasih”. 

 

Belajar dari Howard

Sudirman Nasir dalam tulisannya di Kompas 1 November lalu mencatat bahwa pelajaran penting dari Howard berkaitan dengan kepemimpinan di Indonesia adalah "incumbent berkinerja baik, bisa dikalahkan oleh rasa bosan masyarakat. Bisa dibayangkan betapa bosannya masyarakat pada incumbent yang tak juga menampilkan kinerja memadai”. Pernyataan itu juga didukung oleh ilustrasi kemenangan Clinton atas Bush pada Pemilu 1992. Apakah benar demikian ?

Australia adalah negara yang lebih maju dari Indonesia. Mereka juga memiliki sistem politik yang berbeda dari Indonesia-hanya ada dua orang yang maju dalam pemilihan PM. Namun satu hal yang jelas : rakyat di negara maju memiliki tingkat pengharapan yang lebih tinggi terhadap pemimpinnya karena mereka memang mereka telah berada pada tahap kemapanan (phase of maturity). Logis, tuntutan mereka akan lebih tinggi dan karenanya mereka butuh orang berpengalaman seperti Howard. Oleh karenanya juga, mereka tidak butuh orang baru yang berpotensi menghancurkan kemapanan tersebut. Jika kemudian Howard harus turun, maka itu lebih merupakan masa decline dalam karir politik Howard yang panjang.

Di saat bersamaan, rakyat di sana juga realistis. Sama seperti rakyat AS yang lebih memilih Clinton daripada Bush, rakyat AS juga bisa memilih kembali George W. Bush daripada orang baru John Kerry. Sistem pergantian presiden AS secara jelas memperlihatkan pemilihan presiden berikutnya sebagai uji kinerja incumbent.

 

Pelajaran lain apa ?

Justru incumbent memiliki kedudukan awal lebih baik dari siapapun pesaingnya selama dia bisa memanfaatkan posisi itu sebaik-baiknya. Begitu banyak celah dan strategi untuk berkarya. Hanya perbedaan yang sangat mencolok, misalnya dari umur, visi, dan atau pesona pribadi calon lainnya yang sangat spesial, yang bisa menggoyahkan posisi tersebut.  SBY sendiri pernah menyebutkan betapa kedudukan Megawati sebagai incumbent pada waktu pemilihan presiden lalu memberi keunggulan tersendiri baginya.

Apalagi sebagai negara dengan begitu banyak masalah, rakyat sebenarnya bisa mengukur secara realistis pencapaian pemimpinnya. Di sisi lain, sangat mungkin dengan begitu banyak masalah dan perjalanan reformasi yang masih berupaya menemukan jati diri ini bisa memberikan ruang yang cukup bagi presiden untuk bermanuver. Hanya saja manuver yang ditunggu bukanlah manuver sesaat atau polesan belaka apalagi sekadar apologi.

 

www.kompas.com

Edisi Cetak- Rubrik Opini

 


Blog EntryCatatan Dua BukuNov 10, '07 9:16 PM
for everyone

Catatan dari Dua Buku :

 

Antara Menerima dan Mengubah Nasib Bangsa

 

 

Donard Games

 

 

 

            Dalam dua minggu terakhir ini, penulis beruntung bisa selesai membaca dua buku bagus-dan karenanya inspiratif. Pertama, sebuah novel Amin Maalof dengan judul “Balthasar’s Odyssey” dan buku kedua adalah “Bank Kaum Miskin” dari Muhammad Yunus-masing-masing diterbitkan dalam bahasa Indonesia tahun 2006 dan 2007.

Buku pertama yang penulis baca, novel Balthassar’s Odyssey, bercerita tentang petualangan Baldassare (nama Italia), pedagang buku dari Gibelet, Afrika, untuk mencari buku yang memuat nama Tuhan yang ke-seratus (ingat Asmaul Husna?) yang diyakini berkaitan erat dengan kepercayaan sebagian masyarakat pada waktu itu akan datangnya hari kiamat pada tahun 1666. Ironisnya, buku itu pada awalnya telah ada di genggamannya, tapi semacam dorongan dalam hatinya yang segera untuk menjual buku itu dengan harga mahal pada seorang Perancis. Kemudian, dorongan hati pula yang  mengantarnya untuk percaya bahwa dia harus menyusul buku ini ke Konstantinopel dengan mengajak dua keponakannya dan Martha, cinta masa lalunya.

Perjalanan ke Konstantinopel baru awal dari semuanya. Buku yang dicari ternyata berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain yang memaksanya bertualang sampai ke Genoa (tanah kelahirannya), Smirna, Lisbon, Amsterdam, dan London. Perjalanan menemukan kembali buku itu membuat Baldassare harus bersentuhan dengan peristiwa-peristiwa yang ada di sekelilingnya di masing-masing kota tersebut dan secara luar biasa semuanya berpusat pada dirinya sendiri.

Satu hal yang pasti, untuk perjalanan jauh ini Baldassare telah banyak berkorban. Uang hasil jerih payahnya bertahun-tahun hilang lenyap karena ditipu. Martha yang dicintainya ternyata menyimpan rahasia perempuan. Dia sempat dipenjara dan dikejar-kejar penduduk kota yang marah ; dan uang pinjamannya dirampas. Namun demikian, Baldassare menganggap semua itu adalah takdirnya dan justru mampu menertawakan dirinya sendiri. Bahkan di saat dia akhirnya tahu bahwa perjalanannya bukan sekadar dorongan hatinya, tapi lebih banyak merupakan hasil tarikan orang-orang di sekelilingnya, Baldassare bisa meyakini bahwa itu justru merupakan nasibnya yang lain.

Buku kedua Saya adalah “Bank Kaum Miskin” dari Muhammad Yunus jelas bukan fiksi. Nama Muhammad Yunus sendiri sudah menggemakan petualangannya selama ini, dia pemenang hadiah Nobel Perdamaian 2006, bersama bank kaum miskin : Grameen Bank-grameen artinya pedesaan. Desa identik dengan tradisinya, keengganannya untuk berubah, kemiskinannya, dan kaum perempuannya yang terpinggirkan yang mana akan menjadi perjuangan yang sangat berat untuk mengubahnya.

Lihatlah bagaimana hasil perjuangan Grameen Bank dari Bangladesh  ini. Seperti kata Muhamaad Yunus, Bank untuk usaha mikro ini telah memberi kredit sebesar AS$6 dengan tingkat pengembalian 99 persen dan telah mengangkat 58 persen peminjamnya dari lembah kemiskinan. Praktik ala Grameen Bank telah ditiru antara lain oleh Amerika Serikat, Malaysia, Filipina, dan Norwegia.

 

Buku ini menjelaskan betapa hasil-hasil manis itu adalah buah perjuangan bertahun-tahun, paling tidak 30 tahun. Pada awalnya, Muhammad Yunus adalah dekan fakultas ekonomi Universitas Chittagong di Bangladesh yang prihatin terhadap kemiskinan di desa dekat universitas. Berangkat dari itu, ia ingin mendirikan bank yang benar-benar tepat sasaran pada si miskin dan yang ingin berjuang melepaskan dirinya dari itu dan bukannya kepada orang-orang yang memiliki akses terhadap lembaga keuangan. Diagelisah dan ingin mengubah dan itulah senjatanya. Di era 80-an ia bolak-balik mengunjungi kaum miskin di desa, mengunjungi bank pemerintah, berbicara dengan pejabat pemerintah, dan menjelaskan apa yang dipikirkannyapada orang-orang.

Apa rahasia Grameen Bank sehingga bisa sukses? Jawabannya adalah semakin digali, maka semakin nyata bahwa memang sama sekali tidak ada rahasianya. Semua adalah dari niat baik dan kerja keras Yunus. Dia mengidentifikasi kelompok paling miskin ada di desa dan mereka perempuan. Memperbaiki hidup mereka akan memperbaiki perekonomian karena perempuan lebih peduli dan berpotensi untuk itu. Kelebihan Yunus adalah dia tetap dan selalu percaya si miskin bisa dan mau mengubah nasibnya sendiri dan mereka tahu jalannya. Tidak perlu ada pelatihan-pelatihan keterampilan yang dibikin rumit dan seakan diwajibkan pada mereka oleh pihak kreditur karena mereka pada dasarnya mereka telah memiliki rencana sendiri untuk usahanya;hanya saja mereka tidak memiliki uang.

Bagi pembaca yang telah membaca buku “Confessions of Economic Hit Man” tidak akan terkejut dan akan mendapatkan konfirmasi kebijaksanaan dari Yunus si Pejuang : “Pertumbuhan bisnis konsultan telah membawa lembaga-lembaga donor internasional ke arah yang sangat keliru. Mereka berasumsi Negara-negara penerima bantuan perlu dibimbing pada setiap tahapan proses: saat identifikasi, persiapan, dan pelaksanaan  proyek. Donor dan konsultan cenderung bersikap arogan terhadap negara-negara yang mereka bantu. Lebih jauh, konsultan sering membawa imbas lumpuhnya insiatif-inisiatif negara-negara penerima bantuan (hal. 140).

Begitulah, petualangan Baldassare dan perjuangan Muhammad Yunus meskipun berbeda ranah dan tujuan, tapi bisa memunculkan beberapa pesan. Ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla bertualang ke China dan terkagum-kagum dengan teknologi pembangkit listrik mereka yang sederhana tapi efektif, maka muncullah penerimaan terhadap kelebihan dan pengakuan terhadap kelemahan kita. Begitupun dengan menteri pertanian kita yang seakan tersadar (lagi) betapa pentingnya budi daya benih setiba di China. Inilah pesan dari Baldassare;apakah kita akan menerima dan membenarkan “nasib”.

Petualangan adalah satu tahapan dan perjuangan seperti yang dilakukan Muhammad Yunus adalah tahapan (lain) berikutnya. Sebagaimana jelas beda antara buku fiksi dan non fiksi;jelas pula beda antara sekadar menerima dan mengubah keadaan. Sederhana, tapi tidak mudah.

                                               

           


Blog EntrySemangat Kewirausahaan untuk Kaum MudaNov 10, '07 9:08 PM
for everyone

Semangat Kewirausahaan untuk Kaum Muda

 

 

Sulit untuk membantah bahwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 bermakna penting dalam perjalanan bangsa ini. Memang sebelumnya sudah ada Manifesto Politik 1925 dari Perhimpunan Indonesia di Belanda yang mengangkat isu universal kebebasan, kemerdekaan, dan persamaan, tetapi Sumpah Pemuda yang dilakukan tiga tahun kemudian memunculkan isu yang tidak kalah pentingnya bahkan bisa jadi lebih relevan: nasionalisme dan persatuan bangsa. Untuk suatu bangsa yang sedang diperjuangkan, tidak bisa tidak bahwa kebulatan tekad seperti itu sangat penting.

Semangat itulah yang pada saat ini memilik relevansinya untuk ditumbuhkembangkan melalui proses transformasi, yaitu: semangat kewirausahaan. Dalam artian luas, ini adalah semangat untuk menjadi agen perubahan dengan menampilkan karakteristik khas seorang wirausaha : berani mengambil risiko, pandai memanfaatkan peluang, dan sabar. Semangat ini bukan hanya milik (calon) pengusaha tetapi juga milik para professional dalam organisasi (intrapreneurship). Khusus bagi kaum muda, ini juga sangat berkaitan erat dengan mental yang dimiliki oleh mahasiswa dan aktivis muda  lembaga swadaya masyarakat.

 

Semangat Kewirausahaan Mahasiswa

Kaum muda sendiri bukannya tidak memiliki keresahan untuk berbuat sesuatu. Dan mereka tampaknya belajar sesuatu dari masa lalu. Salah satunya bisa dilihat dari pergerakan kaum muda terpelajar Indonesia. Pada 22-24 Juni lalu kaum muda & pelajar Indonesia di Eropa dan Asia bertemu di Den Haag-seakan menapaktilasi manifesto 1925-dan menyerukan perwujudan keadilan dan kesejahteraan dengan…menciptakan demokrasi ekonomi yang berbasis sumber daya lokal…. Dua bulan setelah itu giliran di Sydney diadakan Konferensi Internasional Pelajar Indonesia dengan mengusung tema lebih kongkret, yaitu: pulang atau mengabdi dari jauh?  Suatu tema yang kembali mengakar pada masalah nasionalisme ; apakah hidup sebagai “warga dunia” di luar Indonesia dan tidak mewakili kepentingan bangsa tidak bertentangan dan atau malah selaras dengan kecintaan terhadap bangsa Indonesia

            Menjadi menarik bahwa kedua peristiwa itu diselenggarakan oleh kaum muda di luar negeri dan mereka sebagian besar adalah mahasiswa penerima beasiswa studi luar negeri. Ini menyiratkan suatu dorongan dari dalam diri mereka sebagai intelektual dan orang-orang pilihan yang mendapatkan kesempatan yang sangat bernilai tinggi untuk bisa studi di luar negeri. Umumnya penerima beasiswa ini berjuang keras dan berliku untuk mendapatkan beasiswa yang memang biasanya sangat kompetitif. Setelah berhasil mereka juga tetap terus berjuang untuk mengatasi tantangan belajar dan hidup di luar negeri.

Tempaan seperti itu yang membuat mereka tangguh dan berani. Warren G. Bennis dan Robert J. Thomas (2002) mencatat bahwa kemampuan mengolah pengalaman yang berharga dalam hidup akan mengubah seseorang dari logam menjadi emas. Itu berarti yang muncul adalah sosok pemimpin yang sebenarnya, yaitu sosok yang memiliki visi hidup yang jelas plus kemampuan untuk tidak mementingkan diri serta menghargai orang lain.

 

Potret dari Sumatera Barat

Berdasarkan survei dari Disnakertrans Sumatera Barat tahun 2006, 74%  kaum muda Sumatera Barat ingin jadi pegawai negeri sipil (detik.com/ 12 Juli 2007). Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi menganalisa itu karena kondisi bisnis yang tidak menentu sementara pegawai negeri menjanjikan penghasilan tetap meskipun tidak bisa kaya. Penulis sebagai pengajar di  Jurusan Manajemen Universitas Andalas juga pernah melakukan penelitian sederhana tentang minat mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Andalas untuk menjadi wirausahawan dan hasilnya 67 % mengaku berminat menjadi wirausahawan, tapi itu setelah tidak mendapatkan “pekerjaan” dan kalau direstui orang tua.

Kita berbicara tentang Sumatera Barat yang identik sebagai penghasil pedagang tangguh dan ulet. Kita juga berbicara tentang daerah penghasil orang-orang yang turut mewarnai perjalanan bangsa ini. Tidak ada salahnya berkeinginan jadi pegawai negeri karena intrapreneurship juga penting, tapi jika itu menjadi pilihan mayoritas dengan alas an takut terhadap tantangan, maka kita bisa katakan itu bukan karakter orang-orang yang bisa diharapkan jadi pembawa perubahan.

            Jika kita menyepakati bahwa semangat kewirausahaan adalah dorongan dari dalam diri pribadi untuk bisa memberi perbedaan dari rangkaian proses yang membentuk karakter-karakter pendukungnya, maka figur Bung  Hatta dari Sumatera Barat  bisa selalu menjadi contoh yang sempurna dalam hal kepemimpinan bangsa . Di umur 20 tahun beliau Hatta sudah aktif di Perhimpunan Indonesia di Belanda dan umur 43 tahun sudah menjadi Wakil Presiden RI. Beliau memberikan keteguhan hati, niat baik, kejujuran dalam konsistensi tingkat tinggi. Itulah yang membuatnya berbeda karena itu ditempa serangkaian pengembaraan dalam hidup : dari surau di kampung, Bukittinggi, lalu melanjutkan studi ke Padang lalu Jakarta dan Belanda.

 

Melangkah ke Depan

Tampaknya diperlukan suatu pengalaman baru dari individu kaum muda di Indonesia untuk dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan. Itu bisa berarti tempat baru, tantangan baru, ataupun pengalaman baru. Hanya saja, untuk zaman dengan teknologi tinggi dan kesempatan mengakses informasi seperti saat ini tidak mesti merantau seperti budaya Minang. Seseorang bisa saja meningkatkan kapasitas diri dan mendapatkan pencerahan tanpa harus berpindah tempat, berpindah-pindah kerja atau dari kegagalan terus-menerus. Belajar dari orang lain juga tidak mesti bertemu langsung. Jika seseorang ingin mendapatkan inspirasi dari karakter unik Pengusaha Bob Sadino atau Inovator Onno W. Purbo, dia bisa mendapatkan itu dari buku atau dengan menjelajahi internet. Mencari sosok seperti Bung Hatta mungkin lebih susah lagi, tapi inspirasinya tetap bisa didapatkan.

Ketika kaum muda Indonesia berkumpul dan  mendeklarasikan aspirasinya pada tahun 1925 dan 1925, mereka mungkin tidak menyadari itu akan menjadi momen yang dikenang terus. Bisa jadi saat itu mereka juga gelisah dan merasa sesuatu harus dilakukan untuk mengatasinya. Percayalah, itu juga hasil dari pengalaman dan pergumulan pemikiran mereka sebelumnya. Sejarah yang akan mencatat apa yang disumbangkan kaum muda saat ini.

 

 

Donard Games,  Pengajar di Universitas Andalas Padang    


Blog EntrySaatnya Kaum Muda Memimpin?Nov 10, '07 8:42 PM
for everyone
Sindo Edisi Sore Opini Sore

                                 Saatnya Kaum Muda Memimpin?

                                               Donard Games

Momen Sumpah Pemuda tahun ini terasa agak istimewa dengan munculnya aspirasi kaum muda untuk bisa tampil dalam pentas kepemimpinan nasional. Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Syaifullah Yusuf, misalnya,  menyebut bahwa sudah saatnya kaum muda menggalang kekuatan untuk bisa menjadi pemimpin bangsa ini, (dan itu) karena mereka juga tidak bisa berharap posisi itu didapatkan begitu saja dari pemberian tokoh tua (Sindo, 26 Oktober). Sebuah langkah yang lebih maju lagi digagas oleh beberapa tokoh muda, seperti : Sukardi Rinakit, Faisal Basri, Effendi Ghazali, Yudi Latif,  Chalid Muhammad Muhammad, dan Fadjroel Rahman. Mereka berikrar dengan menyuarakan secara lantang pada publik, “Saatnya Kaum Muda Memimpin”.

Pertama, harus dilihat latar belakang munculnya keinginan kaum muda untuk tampil dalam kepemimpinan nasional ini. Momen yang diambil adalah Sumpah Pemuda dan tidak dapat disangkal bahwa keinginan itu juga muncul berkaitan dengan pemilihan presiden tahun 2009. Ada semacam kegelisahan dari kaum muda bahwa pemimpin nasional yang sementara muncul dan (akan) tampil pada pemilihan mendatang semuanya berusia mendekati 60 atau di atas 60 tahun, Susilo Bambang Yudhoyono (58 tahun), Megawati Soekarnoputri (60), Jusuf Kalla (65), Sutiyoso (63). Ini bisa dilihat sebagai bentuk kegelisahan kaum muda yang berbeda tapi dengan nafas semangat nasionalisme yang sama dengan kaum muda yang berkongres pada tahun 1928 dimana mereka dulu juga gelisah dengan belum adanya kesatuan sikap pemuda terhadap perjuangan kemerdekaan.

Selanjutnya, mari kita lihat apakah sikap, semangat, keinginan, dan ikrar “Saatnya Kaum Muda Memimpin” yang ingin kaum muda memimpin negeri ini memang bisa diwujudkan untuk saat ini (pemilihan presiden 2009) atau harus menunggu saat-saat yang lebih panjang lagi. Kalau dari ide dan esensi, keinginan tersebut tentu sangat perlu disambut positif dan sama sekali bukan mengada-ada. Ilustrasi sederhana saja, bangsa ini pernah mengalami masa dipimpin oleh tokoh-tokoh muda yang cerdas, terpercaya  dan penuh semangat di masa awal-awal berdirinya. Bung Karno menjadi Presiden RI pertama- di masa-masa sangat sulit-ketika berusia 44 tahun, Wakil Presiden pertama Bung Hatta (43), dan Perdana Menteri pertama Sutan Sjahrir (36). 

Kembali ke ikrar “Saatnya Kaum Muda Memimpin” ini, awal-awal saja, salah satu tokoh penggagasnya, Effendi Ghazali, sudah menyebut bahwa ikrar ini lebih merupakan simbol dari bangkitnya anak muda (detikcom, 26 Oktober). Belum lagi fakta bahwa menurut survei LSI yang diumumkan pada minggu pertama Oktober ini ternyata tokoh-tokoh tua ternyata masih menjadi favorit responden. Apalagi, secara objektif mereka yang disebut-sebut sebagai calon pemimpin nasional adalah mereka yang masih dan telah memiliki posisi penting di pemerintahan atau di partai politik, serta tentunya memiliki akses yang kuat ke media massa-sesuatu yang kiranya menjadi barang mahal bagi kaum muda.

Namun demikian, sesulit apapun, dan sudah sesuai dengan karakteristiknya, kaum muda memang seharusnya tetap terus berupaya dan pandai mengambil kesempatan. Pada saatnya, upaya dan kepandaian itu akan membuahkan hasil. Termasuk upaya Faisal Basri, misalnya, yang bagi sebagian orang dianggap naïf dan mentah secara politik ketika menyebut salah satu alasannya untuk mengikuti proses pemilihan gubernur Jakarta adalah karena dia melihat adanya kebijakan partai politik salah satu partai yang mencalonkan orang yang berkualitas dan bisa diterima oleh publik meskipun calon tersebut berasal dari luar partai. Kaum muda juga bisa belajar dari pengalaman intelektual muda yang cerdas dan mapan secara ekonomi, Jeffry Geovannie, yang mendapat kesempatan langka bisa menjadi calon gubernur Sumatera Barat, tetapi lupa menghitung betapa pentingnya untuk dikenal oleh masyarakat luas, apalagi di saat rakyat memilih pemimpinnya secara langsung, dan bukan hanya intens pada saat proses pencalonan dilaksanakan.

Pemimpin muda yang tampil juga seharusnya bukan sekadar mengandalkan kemudaan usianya saja. Lebih daripada itu, rakyat pada umumnya dan termasuk kaum mudanya sendiri pada dasarnya lebih merindukan sosok pemimpin nasional yang berjiwa muda. Berjiwa muda dalam hal ini identik dengan pemimpin yang berani, berwawasan luas dan terbuka, dan penuh semangat. Banyak kaum muda di Indonesia saat ini yang mengagumi pemimpin-pemimpin, seperti : Presiden Mahmudin Ahmadinnejad (Iran), Presiden Evo Morales (Bolivia), Presiden Hugo Chavez (Venezuela).  Meskipun mereka sering dipandang sebagai sosok yang naif dan agak aneh, tapi paling tidak mereka memiliki sikap dan komitmen yang jelas untuk menyejahterakan rakyatnya dan berani menyatakan pendiriannya secara jelas dan konsisten meskipun mengundang kontroversi terutama dari lawan-lawan politik mereka di kalangan komunitas internasional.

Penulis melihat bahwa dengan segenap potensi besarnya meskipun juga dibarengi kelemahan-kelemahannya, kaum muda sudah sepatutnya disiapkan untuk memimpin bangsa ini. Namun demikian, dari segi kenyataan, secara objektif, adalah masih sulit bagi kaum muda untuk tampil sebagai presiden pada pemilihan presiden 2009. Posisi wakil presiden bisa jadi lebih bisa dijangkau kaum muda dan itupun tergantung campur tangan banyak pihak, termasuk calon presidennya sendiri yang tentunya memiliki posisi tawar yang lebih besar.

Kita bisa berharap bahwa presiden terpilih pada pemilihan 2009 bisa menjadi mentor dan sekaligus mitra bagi terwujudnya kepemimpinan nasional dari kaum muda di masa datang. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika publik mulai sekarang mencermati secara lebih istimewa  pada calon presiden (siapapun dia dan berapapun usianya) yang berjanji untuk memberikan posisi-posisi penting pada kaum muda, tetapi yang lebih penting lagi, berjiwa muda di pemerintahan yang akan dibentuknya nanti.

 

 

 

Donard Games,

Pemuda Indonesia;

Pengajar di Universitas Andalas Padang

 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini-sore/saatnya-kaum-muda-memimpin-3.html

Sabtu, 27/10/2007

Blog EntryLangkah Kuda SutiyosoNov 10, '07 8:30 PM
for everyone

                                    LANGKAH KUDA SUTIYOSO ?

                                                    Donard Games

 

 

            Rabu, 10/10/2007 - Tepat pada 1 Oktober lalu, Sutiyoso mengumumkan keinginannya untuk maju dalam pencalonan sebagai Presiden RI dalam pemilihan umum 2009. Sebagaimana diberitakan Sindo pada 2 Oktober lalu, Sutiyoso merasa tidak gentar dan siap bersaing dengan siapapun dalam pemilihan presidenn anti seraya dengan lugas menyebut dukungan padanya cukup signifikan dari sejumlah pihak dan diapresiasi banyak orang terbukti dari kehadiran banyak tokoh penting di saat momen pendeklarasiannya.

            Ada beberapa catatan menarik yang bisa disampaikan sehubungan dengan pencalonan sosok yang memimpin Jakarta dalam dua periode kepemimpinan ini. Pertama, memang benar ini bukan deklarasi pencalonan diri sebagai calon presiden yang pertama, tapi ini adalah pencalonan presiden pertama yang belum memiliki kendaraan politik alias partai politik dalam pemilihan nanti. Sebelumnya ada Megawati Soekarno Putri yang sudah dapat dipastikan didukung sepenuhnya oleh PDI-P. Sementara pencalonan Abdurrahman Wahid dianggap tidak mengejutkan karena pengaruh kuatnya di PKB meskipun kepastiannya tidak sebesar Megawati karena alasan kesehatan dan atau undang-undang.

            Inilah kecerdikan Sutiyoso yang memang taktis dan berorientasi tujuan. Dia tahu bahwa dirinya tidak punya sandaran partai politik, tapi dia juga paham bahwa dalam konstelasi politik semua hal termasuk pencalonan dirinya adalah kemungkinan. Sebagian orang menyebut bahwa pendeklarasian Sutiyoso ini terlalu awal dan berani sementara pemilihan masih jauh dan bahkan partai politik peserta pemilihan umum pun masih belum ditetapkan. Namun demikian, justru dengan pencalonannya yang belum didukung oleh partai peserta pemilihan umum serta waktu yang relatif masih lama menjelang 2009 akan menjadikan kesempatannya menjadi terbuka untuk dipertimbangkan oleh partai politik. Sebuah lompatan lainnya setelah sebelumnya dia di luar bayangan banyak orang mampu memenangkan hati PDI-P untuk bisa maju pada periode kedua gubernur Jakarta.

            Alasan kedua yang menjadikan pencalonan Sutiyoso menarik untuk dibahas adalah karakter pribadi dan gaya kepemimpinannya yang berbeda dan bisa menjadi alternatif. Karakter pribadi yang suka kerja keras, percaya diri, berorientasi tujuan, dan memiliki pandangan bahwa dirinya bisa berperan besar menentukan nasibnya sendiri (konsep locus of control). Lihat saja di halaman depan situs resminya (www.bangyos.com), Sutiyoso dengan lugas menyebut, “Kalau orang lain bisa, mengapa Saya tidak bisa. Kalau orang Belanda di Amsterdam keliling kota pakai feri bisa, mengapa kita tidak bisa? Sutiyoso sendiri pernah menyebut dirinya nekad jadi tentara mekipun keluarganya tidak setuju dan baru pulang ke rumah setelah dia sudah berhasil masuk Akabri. Tapi dia juga pragmatis dan oportunis. Dia tidak menolak kemungkinan dirinya menjadi menteri dalam negeri sampai akhirnya dia mendapat sinyal yang jelas dari SBY bahwa dia bukan orangnya.           

Gaya kepemimpinannya melekat dengan citra kejelasan dan ketegasan terutama di periode kedua jabatannya sebagai gubernur.  Tidak dapat disangkal bahwa tidak banyak pejabat politik dari kalangan eksekutif di Indonesiaa saat ini yang sikapnya sejelas dan setegas Sutiyoso. Kekerasan hatinya menerapkan proyek Busway sudah menjadi pengetahuan orang. Dia juga tidak segan-segan menunjukkan kecenderungan sikapnya. Sebagai contoh, Sutiyoso tidak menutupi kejengkelan hatinya dan bahkan menghubungkannya dengan nasionalisme bangsa Indonesia ketika pihak keamanan di Sydney berupaya menginterogasinya seputar masalah Timor Leste. Dia juga tidak menyembunyikan keinginan pribadinya yang mengharapkan wakilnya Fauzi Bowo sebagai gubernur Jakarta pengganti dirinya.

 

 

 

 

            Ketegasan dan kejelasan inilah yang tampaknya akan menjadi senjata bagi Sutiyoso dalam pencalonannya. Sebagian pihak menyebut bahwa prestasi Sutiyoso sebagai gubernur tidak dapat dikatakan cemerlang karena tiga indikator dianggap tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, yaitu : masalah banjir, kemacetan lalu lintas dan kesejahteraan penduduk Jakarta. Belum lagi keraguan publiK atas peran militernya di masa lalu dan isu politik uang. Meskipun begitu, Sutiyoso juga  mengetahui bahwa ada keinginan dari banyak orang terhadap ketegasan dan kepastian dari pemimpinnya; sesuatu yang sepertinya juga dirindukan orang dari kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK)

Padahal, pasangan SBY-JK adalah pasangan hasil pemilihan umum yang relatif bersih dan ini yang penting : dipilih langsung oleh rakyat. Rakyat memercayai mereka untuk mengambil keputusan-keputusa penting yang menyangkut hidup mereka. Orang pada dasarnya meyakini bahwa SBY adalah orang pintar dan dapat dipercaya. Namun ada kegamangan dari SBY dalam mengambil keputusan sebagaimana kehati-hatiannya dalam berhadapan dengan parlemen dan partai politik. Ada keputusan politik presiden yang benar tapi terlalu lama keluarnya, seperti penggantian menteri dalam negeri yang dibiarkan kosong terlalu lama dan keputusan tentang nasib dan penanganan IPDN. Ada juga keputusan yang memang membutuhkan ketepatan dan kecepatan sedari awal, seperti misalnya, masalah lumpur Sidoarjo.

Oleh karena itu, tidak heran ketika mengumumkan keinginannya menjadi calon presiden, Sutiyoso mengangkat isu yang dianggap jelas dan kuat untuk publik. Tentu saja dia juga mengangkat perihal kekecewaannya dan kekecewaan banyak orang perihal jalannya reformasi, tapi Sutiyoso tidak lupa mengangkat isu kongkret dan juga populer, yaitu nasionalisme. Itu ketika dia dengan bersemangat menyebut  dirinya akan mengurangi intervensi asing terhadap seluruh dimensi kehidupan di Indonesia. “Kalau sampai sistem ekonomi maupun politik Indonesia diintervensi, harga diri bangsa kita akan jatuh”, katanya (Seputar Indonesia, 2 Oktober).

Perjalanan politik Sutiyoso selanjutnya setelah menjadi gubernur sudah (resmi) dimulai. Dia tentu sudah siap dengan segala konsekuensinya. Tinggal lagi tanggapan masayarakat dan terutama partai politik peserta pemilihan umum, apakah mereka melihat Sutiyoso sebagai alternatif, atau melirik kepadanya nanti di saat-saat terakhir atau malah melupakannya. Jika nanti dalam perjalanannya Sutiyoso diharuskan memilih posisi yang lebih rendah, misalnya, posisi  wakil presiden atau sebagai menteri dari presiden terpilih, itu adalah kemungkinan-kemungkinan lanjutan yang perlu dicermati dari langkah Sutiyoso kali ini.

 

 

Donard Games, Pengamat Sosial Politik, Pengajar di Universitas Andalas Sumatera Barat

 

 http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ opini-sore/ langkah-kuda- sutiyoso. html

 


Blog EntryKepemimpinan ala WirausahaNov 10, '07 5:38 PM
for everyone

 

Kepemimpinan  ala Wirausaha

Donard Games

 

Sindo-Rabu 07/11/2007- Satu lagi model kepemimpinan yang kembali mendapat momen untuk ditampilkan kembali adalah pemerintahan berjiwa wirausaha (entrepreneurial government) ala Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad. Ini berkat keberhasilannya mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu administrasi negara dari Univesitas Gadjah Mada setelah mempertahankan desertasinya yang berjudul ”Signifikansi Peran Manajemen Kewirausahaan Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah: Studi Kasus Provinsi Gorontalo. Terlepas dari pencapaian akademik dan riset yang dilakukannya, keberhasilan Fadel mendapatkan gelar doktor sangat ditentukan oleh anggapan kesuksesannya dalam mengubah mainstream birokrasi dari model birokrat menjadi model wirausaha  (Sindo, 28 Oktober).

 

Benar, bahwa pemerintahan bercorak wirausaha ini bukan hal yang baru lagi. Sudah bvanyak bahasan para ahli tentang kemungkinan dan manfaat menerapkan gaya kepemimpinan seperti ini, namun tetap saja apa yang dilakukan oleh Fadel Muhammad ini memiliki nilai lebih karena secara langsung dan meyakinkan dipraktikkan di dalam pemerintahannya.

 

Lebih rinci lagi, ada beberapa poin mendasar yang membuat entrepreneurial government di Gorontalo ini menjadi menarik dan pantas diperhatikan. Pertama, implementasinya dilakukan di provinsi yang baru saja lahir dan relatif memiliki keterbatasan sumber daya. Bagi orang yang berpikiran realistis plus pesimistis, kenyataan ini memunculkan adanya perasaaan ketidakpastian terutama apakah penerapan nilai-nilai baru termasuk perubahan budaya kerja di pemerintahan bisa diterima dan berjalan baik. Sebaliknya, bagi pribadi dengan karakter kuat malah akan melihat aspek ini sebagai kesempatan untuk memimpin provinsi baru ini akan menjadi awal yang baik untuk mulai membangun fondasi pemerintahan yang cocok dengan apa yang dibayangkan sebelumnya.

 

Untuk pendapat yang terakhir ini, pengalaman di negara-negara maju bisa menjadi pembenaran. Di pemerintahan yang mapan dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi mengakibatkan tingginya tingkat pengharapan yang besar dari warganya.  Padahal bukan hal yang mudah bagi pemerintahnya untuk bermanuver untuk melakukan inovasi-inovasi di tahapan tersebut. Di salah satu negara bagian Australia, Queensland, misalnya, ketika sebagian gubernur masih mengeluhkan produktifitas warganya termasuk aparat birokrasi, pemerintah Queensland baru-baru ini sudah lebih jauh lagi dengan membahas Daylight Saving Time, yaitu kemungkinan membuat kesepakatan bersama untuk memajukan jam kerja yang terutama bisa mendukung para pebisnis. Ketika kita bicara tentang infrastruktur rumah sakit, mereka telah bicara tentang penambahan tempat tidur rumah sakit yang dirasa proporsional. Ketika kita (dulu) mengkampanyekan penghematan energi, mereka telah  menerapkan kebijakan pengurangan pemakaian air (water restriction) yang berhasil menghemat jutaan liter air per hari.

 

Poin penting lainnya yang perlu dicatat dari kepemimpinan ala Fadel Muhammad adalah gubernur Gorontalo ini memulai kepemimpinannya dari arah yang benar, yaitu visi dan misi yang jelas. Ini lalu bermuara pada kesimpulan bahwa inovasi adalah kunci sukses terutama sedari awal sehingga masyarakat termasuk birokrasi yang ada cepat mafhum. Fadel secara cepat menganalisa kekuatan Gorontalo yang bisa dieksplorasi untuk secara cepat meningkatkan kesejahteraan masyartakat adalah pada komoditas jagung dan perikanan. Ia juga bisa melihat celah yang bisa meningkatkan kesejahteraan PNS di daerahnya secara signifikan tanpa mengorbankan aspek peningkatan kinerja mereka.

 

Selanjutnya, kepemimpinan membutuhkan keseimbangan antara visi seorang usahawan dan visi birokrat.  Secara ekstrem, usahawan yang menjadi kepala daerah akan memasukkan nilai-nilai dan naluri mendasarnya, yaitu antara lain : sangat berorientasi pada hasil, pengambil risiko, dan mengutamakan aspek kuantitatif  laba dan pertumbuhan. Sementara titik ekstrem lainnya, kepemimpinan ala birokrat secara tradisional lebih mengutamakan prosedur dan efisiensi. Adalah tidak mudah untuk memadukan dua titik tersebut sebagaimana tidak mudah merangkul elemen birokrasi maupun masyarakat untuk dapat menerima perubahan tersebut. Ketekunan Fadel untuk menemukan struktur organisasi yang tepat di pemerintahannya dapat dilihat dalam kerangka sebagai bagian usahanya memasukkkan kultur berorientasi pada fungsi yang meberikan kepuasan konsumen (warga negara).

 

Kegagalan dalam mengkomunikasikan dan memadukan visi dan misi bisa menyebabkan kegagalan pemerintahan ala wirausaha. Dan ini lebih banyak berkaitan dengan seni kepemimpinan yang bersangkutan. Seorang mantan bupati yang berlatar belakang pengusaha dianggap sebagian warganya sebagai pribadi yang arogan karena terlalu blak-blakan, tidak mendukung pendidikan gratis, dan berlaku bak saudagar ketika mendepositokan sebagian dana APBD. Padahal menurut pengakuan yang bersangkutan pada penulis, semua itu dilakukannya selain karena karakter pribadi juga karena pendekatan prinsip kewirausahaan yang ingin diterapkannya dalam pemerintahan.

 

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika perihal kepemimpinan ini diurusi oleh pihak-pihak yang sadar akan betapa pentingnya hal tersebut. Sudah saatnya, pemimpin yang maju dalam pemilihan kepala daerah, misalnya, haruslah yang benar-benar mengetahui apa yang semestinya dia lakukan dan secara objektif mampu menciptakan perubahan. Ketika seorang Fadel mendatangkan tenaga ahli dari Jawa sebagai konsultan struktur organisasi pemerintahannya dan mencari tahu sebanyak mungkin tentang pengembangan produk unggulan daerahnya, jagung dan ikan, maka itu hanya bisa lahir dari pribadi yang mau berpikir logis dan bertindak sesuai dengan konsekuensi logika tersebut. Begitupun dengan partai politik, seharusnya mulai mencermati pribadi-pribadi dengan karakter kuat dan bukan hanya  karena calon yang akan diusungnya populer dan kaya.

           

      Tulisan ini ingin ditutup dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh Prof Dr Sofian Effendi yang dalam kapasitasnya sebagai penguji desertasi Fadel Muhammad, yaitu apakah keberhasilan seorang Fadel Muhammad dalam teori kepemimpinan ala Fadel di Gorontalo bisa diaplikasikan dengan baik di kancah pemerintahan nasional ?  Ini pertanyaan retorik yang (mudah-mudahan) akan berguna dalam mengevaluasi kinerja kepemimpinan ala kepemimpinan nasional saat ini.

 

 

Donard Games, Pengamat Masalah Sosial, Pengajar di Universitas Andalas Padang

 

 

 

__________________________________________________

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.