Catatan dari Dua Buku :
Antara Menerima dan Mengubah Nasib Bangsa
Donard Games
Dalam dua minggu terakhir ini, penulis beruntung bisa selesai membaca dua buku bagus-dan karenanya inspiratif. Pertama, sebuah novel Amin Maalof dengan judul “Balthasar’s Odyssey” dan buku kedua adalah “Bank Kaum Miskin” dari Muhammad Yunus-masing-masing diterbitkan dalam bahasa Indonesia tahun 2006 dan 2007.
Buku pertama yang penulis baca, novel Balthassar’s Odyssey, bercerita tentang petualangan Baldassare (nama Italia), pedagang buku dari Gibelet, Afrika, untuk mencari buku yang memuat nama Tuhan yang ke-seratus (ingat Asmaul Husna?) yang diyakini berkaitan erat dengan kepercayaan sebagian masyarakat pada waktu itu akan datangnya hari kiamat pada tahun 1666. Ironisnya, buku itu pada awalnya telah ada di genggamannya, tapi semacam dorongan dalam hatinya yang segera untuk menjual buku itu dengan harga mahal pada seorang Perancis. Kemudian, dorongan hati pula yang mengantarnya untuk percaya bahwa dia harus menyusul buku ini ke Konstantinopel dengan mengajak dua keponakannya dan Martha, cinta masa lalunya.
Perjalanan ke Konstantinopel baru awal dari semuanya. Buku yang dicari ternyata berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain yang memaksanya bertualang sampai ke Genoa (tanah kelahirannya), Smirna, Lisbon, Amsterdam, dan London. Perjalanan menemukan kembali buku itu membuat Baldassare harus bersentuhan dengan peristiwa-peristiwa yang ada di sekelilingnya di masing-masing kota tersebut dan secara luar biasa semuanya berpusat pada dirinya sendiri.
Satu hal yang pasti, untuk perjalanan jauh ini Baldassare telah banyak berkorban. Uang hasil jerih payahnya bertahun-tahun hilang lenyap karena ditipu. Martha yang dicintainya ternyata menyimpan rahasia perempuan. Dia sempat dipenjara dan dikejar-kejar penduduk kota yang marah ; dan uang pinjamannya dirampas. Namun demikian, Baldassare menganggap semua itu adalah takdirnya dan justru mampu menertawakan dirinya sendiri. Bahkan di saat dia akhirnya tahu bahwa perjalanannya bukan sekadar dorongan hatinya, tapi lebih banyak merupakan hasil tarikan orang-orang di sekelilingnya, Baldassare bisa meyakini bahwa itu justru merupakan nasibnya yang lain.
Buku kedua Saya adalah “Bank Kaum Miskin” dari Muhammad Yunus jelas bukan fiksi. Nama Muhammad Yunus sendiri sudah menggemakan petualangannya selama ini, dia pemenang hadiah Nobel Perdamaian 2006, bersama bank kaum miskin : Grameen Bank-grameen artinya pedesaan. Desa identik dengan tradisinya, keengganannya untuk berubah, kemiskinannya, dan kaum perempuannya yang terpinggirkan yang mana akan menjadi perjuangan yang sangat berat untuk mengubahnya.
Lihatlah bagaimana hasil perjuangan Grameen Bank dari Bangladesh ini. Seperti kata Muhamaad Yunus, Bank untuk usaha mikro ini telah memberi kredit sebesar AS$6 dengan tingkat pengembalian 99 persen dan telah mengangkat 58 persen peminjamnya dari lembah kemiskinan. Praktik ala Grameen Bank telah ditiru antara lain oleh Amerika Serikat, Malaysia, Filipina, dan Norwegia.
Buku ini menjelaskan betapa hasil-hasil manis itu adalah buah perjuangan bertahun-tahun, paling tidak 30 tahun. Pada awalnya, Muhammad Yunus adalah dekan fakultas ekonomi Universitas Chittagong di Bangladesh yang prihatin terhadap kemiskinan di desa dekat universitas. Berangkat dari itu, ia ingin mendirikan bank yang benar-benar tepat sasaran pada si miskin dan yang ingin berjuang melepaskan dirinya dari itu dan bukannya kepada orang-orang yang memiliki akses terhadap lembaga keuangan. Diagelisah dan ingin mengubah dan itulah senjatanya. Di era 80-an ia bolak-balik mengunjungi kaum miskin di desa, mengunjungi bank pemerintah, berbicara dengan pejabat pemerintah, dan menjelaskan apa yang dipikirkannyapada orang-orang.
Apa rahasia Grameen Bank sehingga bisa sukses? Jawabannya adalah semakin digali, maka semakin nyata bahwa memang sama sekali tidak ada rahasianya. Semua adalah dari niat baik dan kerja keras Yunus. Dia mengidentifikasi kelompok paling miskin ada di desa dan mereka perempuan. Memperbaiki hidup mereka akan memperbaiki perekonomian karena perempuan lebih peduli dan berpotensi untuk itu. Kelebihan Yunus adalah dia tetap dan selalu percaya si miskin bisa dan mau mengubah nasibnya sendiri dan mereka tahu jalannya. Tidak perlu ada pelatihan-pelatihan keterampilan yang dibikin rumit dan seakan diwajibkan pada mereka oleh pihak kreditur karena mereka pada dasarnya mereka telah memiliki rencana sendiri untuk usahanya;hanya saja mereka tidak memiliki uang.
Bagi pembaca yang telah membaca buku “Confessions of Economic Hit Man” tidak akan terkejut dan akan mendapatkan konfirmasi kebijaksanaan dari Yunus si Pejuang : “Pertumbuhan bisnis konsultan telah membawa lembaga-lembaga donor internasional ke arah yang sangat keliru. Mereka berasumsi Negara-negara penerima bantuan perlu dibimbing pada setiap tahapan proses: saat identifikasi, persiapan, dan pelaksanaan proyek. Donor dan konsultan cenderung bersikap arogan terhadap negara-negara yang mereka bantu. Lebih jauh, konsultan sering membawa imbas lumpuhnya insiatif-inisiatif negara-negara penerima bantuan (hal. 140).
Begitulah, petualangan Baldassare dan perjuangan Muhammad Yunus meskipun berbeda ranah dan tujuan, tapi bisa memunculkan beberapa pesan. Ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla bertualang ke China dan terkagum-kagum dengan teknologi pembangkit listrik mereka yang sederhana tapi efektif, maka muncullah penerimaan terhadap kelebihan dan pengakuan terhadap kelemahan kita. Begitupun dengan menteri pertanian kita yang seakan tersadar (lagi) betapa pentingnya budi daya benih setiba di China. Inilah pesan dari Baldassare;apakah kita akan menerima dan membenarkan “nasib”.
Petualangan adalah satu tahapan dan perjuangan seperti yang dilakukan Muhammad Yunus adalah tahapan (lain) berikutnya. Sebagaimana jelas beda antara buku fiksi dan non fiksi;jelas pula beda antara sekadar menerima dan mengubah keadaan. Sederhana, tapi tidak mudah.