Expression of Donard : A Better World is Possible

donard's posts with tag: entrepreneurial

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag entrepreneurial
Blog EntryKepemimpinan ala WirausahaNov 10, '07 5:38 PM
for everyone

 

Kepemimpinan  ala Wirausaha

Donard Games

 

Sindo-Rabu 07/11/2007- Satu lagi model kepemimpinan yang kembali mendapat momen untuk ditampilkan kembali adalah pemerintahan berjiwa wirausaha (entrepreneurial government) ala Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad. Ini berkat keberhasilannya mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu administrasi negara dari Univesitas Gadjah Mada setelah mempertahankan desertasinya yang berjudul ”Signifikansi Peran Manajemen Kewirausahaan Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah: Studi Kasus Provinsi Gorontalo. Terlepas dari pencapaian akademik dan riset yang dilakukannya, keberhasilan Fadel mendapatkan gelar doktor sangat ditentukan oleh anggapan kesuksesannya dalam mengubah mainstream birokrasi dari model birokrat menjadi model wirausaha  (Sindo, 28 Oktober).

 

Benar, bahwa pemerintahan bercorak wirausaha ini bukan hal yang baru lagi. Sudah bvanyak bahasan para ahli tentang kemungkinan dan manfaat menerapkan gaya kepemimpinan seperti ini, namun tetap saja apa yang dilakukan oleh Fadel Muhammad ini memiliki nilai lebih karena secara langsung dan meyakinkan dipraktikkan di dalam pemerintahannya.

 

Lebih rinci lagi, ada beberapa poin mendasar yang membuat entrepreneurial government di Gorontalo ini menjadi menarik dan pantas diperhatikan. Pertama, implementasinya dilakukan di provinsi yang baru saja lahir dan relatif memiliki keterbatasan sumber daya. Bagi orang yang berpikiran realistis plus pesimistis, kenyataan ini memunculkan adanya perasaaan ketidakpastian terutama apakah penerapan nilai-nilai baru termasuk perubahan budaya kerja di pemerintahan bisa diterima dan berjalan baik. Sebaliknya, bagi pribadi dengan karakter kuat malah akan melihat aspek ini sebagai kesempatan untuk memimpin provinsi baru ini akan menjadi awal yang baik untuk mulai membangun fondasi pemerintahan yang cocok dengan apa yang dibayangkan sebelumnya.

 

Untuk pendapat yang terakhir ini, pengalaman di negara-negara maju bisa menjadi pembenaran. Di pemerintahan yang mapan dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi mengakibatkan tingginya tingkat pengharapan yang besar dari warganya.  Padahal bukan hal yang mudah bagi pemerintahnya untuk bermanuver untuk melakukan inovasi-inovasi di tahapan tersebut. Di salah satu negara bagian Australia, Queensland, misalnya, ketika sebagian gubernur masih mengeluhkan produktifitas warganya termasuk aparat birokrasi, pemerintah Queensland baru-baru ini sudah lebih jauh lagi dengan membahas Daylight Saving Time, yaitu kemungkinan membuat kesepakatan bersama untuk memajukan jam kerja yang terutama bisa mendukung para pebisnis. Ketika kita bicara tentang infrastruktur rumah sakit, mereka telah bicara tentang penambahan tempat tidur rumah sakit yang dirasa proporsional. Ketika kita (dulu) mengkampanyekan penghematan energi, mereka telah  menerapkan kebijakan pengurangan pemakaian air (water restriction) yang berhasil menghemat jutaan liter air per hari.

 

Poin penting lainnya yang perlu dicatat dari kepemimpinan ala Fadel Muhammad adalah gubernur Gorontalo ini memulai kepemimpinannya dari arah yang benar, yaitu visi dan misi yang jelas. Ini lalu bermuara pada kesimpulan bahwa inovasi adalah kunci sukses terutama sedari awal sehingga masyarakat termasuk birokrasi yang ada cepat mafhum. Fadel secara cepat menganalisa kekuatan Gorontalo yang bisa dieksplorasi untuk secara cepat meningkatkan kesejahteraan masyartakat adalah pada komoditas jagung dan perikanan. Ia juga bisa melihat celah yang bisa meningkatkan kesejahteraan PNS di daerahnya secara signifikan tanpa mengorbankan aspek peningkatan kinerja mereka.

 

Selanjutnya, kepemimpinan membutuhkan keseimbangan antara visi seorang usahawan dan visi birokrat.  Secara ekstrem, usahawan yang menjadi kepala daerah akan memasukkan nilai-nilai dan naluri mendasarnya, yaitu antara lain : sangat berorientasi pada hasil, pengambil risiko, dan mengutamakan aspek kuantitatif  laba dan pertumbuhan. Sementara titik ekstrem lainnya, kepemimpinan ala birokrat secara tradisional lebih mengutamakan prosedur dan efisiensi. Adalah tidak mudah untuk memadukan dua titik tersebut sebagaimana tidak mudah merangkul elemen birokrasi maupun masyarakat untuk dapat menerima perubahan tersebut. Ketekunan Fadel untuk menemukan struktur organisasi yang tepat di pemerintahannya dapat dilihat dalam kerangka sebagai bagian usahanya memasukkkan kultur berorientasi pada fungsi yang meberikan kepuasan konsumen (warga negara).

 

Kegagalan dalam mengkomunikasikan dan memadukan visi dan misi bisa menyebabkan kegagalan pemerintahan ala wirausaha. Dan ini lebih banyak berkaitan dengan seni kepemimpinan yang bersangkutan. Seorang mantan bupati yang berlatar belakang pengusaha dianggap sebagian warganya sebagai pribadi yang arogan karena terlalu blak-blakan, tidak mendukung pendidikan gratis, dan berlaku bak saudagar ketika mendepositokan sebagian dana APBD. Padahal menurut pengakuan yang bersangkutan pada penulis, semua itu dilakukannya selain karena karakter pribadi juga karena pendekatan prinsip kewirausahaan yang ingin diterapkannya dalam pemerintahan.

 

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika perihal kepemimpinan ini diurusi oleh pihak-pihak yang sadar akan betapa pentingnya hal tersebut. Sudah saatnya, pemimpin yang maju dalam pemilihan kepala daerah, misalnya, haruslah yang benar-benar mengetahui apa yang semestinya dia lakukan dan secara objektif mampu menciptakan perubahan. Ketika seorang Fadel mendatangkan tenaga ahli dari Jawa sebagai konsultan struktur organisasi pemerintahannya dan mencari tahu sebanyak mungkin tentang pengembangan produk unggulan daerahnya, jagung dan ikan, maka itu hanya bisa lahir dari pribadi yang mau berpikir logis dan bertindak sesuai dengan konsekuensi logika tersebut. Begitupun dengan partai politik, seharusnya mulai mencermati pribadi-pribadi dengan karakter kuat dan bukan hanya  karena calon yang akan diusungnya populer dan kaya.

           

      Tulisan ini ingin ditutup dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh Prof Dr Sofian Effendi yang dalam kapasitasnya sebagai penguji desertasi Fadel Muhammad, yaitu apakah keberhasilan seorang Fadel Muhammad dalam teori kepemimpinan ala Fadel di Gorontalo bisa diaplikasikan dengan baik di kancah pemerintahan nasional ?  Ini pertanyaan retorik yang (mudah-mudahan) akan berguna dalam mengevaluasi kinerja kepemimpinan ala kepemimpinan nasional saat ini.

 

 

Donard Games, Pengamat Masalah Sosial, Pengajar di Universitas Andalas Padang

 

 

 

__________________________________________________

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.