Expression of Donard : A Better World is Possible

donard's posts with tag: kepemimpinan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kepemimpinan
Blog EntryPelajaran (Lain) dari HowardNov 11, '07 5:48 PM
for everyone

Pelajaran (Lain) dari Howard

Donard Games

 

            Kompas 12-11-2007- Ketika kontroversi tampilnya seorang model belia berumur 13 tahun di Australia merebak, Perdana Menteri Australia John Howard menyebut bahwa ia…”menentang itu sepenuhnya dan percaya semua orang Australia sepakat dengannya”. Pesaing Howard dalam pemilihan nanti, Kevin Rudd, berkomentar bahwa perhatiannya adalah tentang hilangnya masa remaja model tersebut.

            Menanggapi hukuman mati pada pelaku Bom Bali, Rudd melalui pembantunya McClelland, sempat menyebut bahwa mereka konsisten mendukung penghapusan hukuman mati meskipun kemudian ditambahi oleh Rudd bahwa kebijakannya dalam hal ini sama dengan Partai Liberal dan mereka tidak akan ikut campur terhadap putusan hukum Indonesia. Howard, 68 tahun, dengan sigap berkomentar dirinya tidak akan ikut-ikutan membela pembunuh rakyat Australia seraya menyindir ‘me-too’ policy dari rivalnya.

Bisa dilihat bahwa Howard masih seperti dulu : tajam, lugas, dan  langsung-yang disebutnya sebagai gaya Australia. Tidak kalah dengan Rudd yang lebih muda 18 tahun, Howard terlihat masih bugar. Lebih penting lagi, tidak banyak perbedaan penting yang bisa ditampilkan antara Howard dan Rudd selain perbedaan usia mereka. Terlepas dari kritik terhadapnya, banyak orang berpikir Howard adalah PM yang sukses dalam memimpin negaranya selama 11 tahun terakhir ini dan bahkan bisa jadi paling sukses dalam sejarah Australia.

Jika memang Howard masih memiliki ‘potongan’ sebagai PM dan jika memang dia sebagus itu, mengapa banyak orang menyebut era Howard sudah berakhir dan bahwa dia telah kehilangan sentuhannya terutama terhadap kaum muda Australia? Jajak pendapat terakhir mengkonfirmasi : 55 persen pemilih usia 18-34 tahun memilih Rudd. Sederhana saja. Kalau memang nanti Howard kalah, itu semacam perwujudan dari ucapan pemilih yang kira-kira seperti ini, “ Mr Howard anda memang bagus, tapi Anda terlalu lama menjabat sebagai PM dan ini saatnya berhenti. Terima kasih”. 

 

Belajar dari Howard

Sudirman Nasir dalam tulisannya di Kompas 1 November lalu mencatat bahwa pelajaran penting dari Howard berkaitan dengan kepemimpinan di Indonesia adalah "incumbent berkinerja baik, bisa dikalahkan oleh rasa bosan masyarakat. Bisa dibayangkan betapa bosannya masyarakat pada incumbent yang tak juga menampilkan kinerja memadai”. Pernyataan itu juga didukung oleh ilustrasi kemenangan Clinton atas Bush pada Pemilu 1992. Apakah benar demikian ?

Australia adalah negara yang lebih maju dari Indonesia. Mereka juga memiliki sistem politik yang berbeda dari Indonesia-hanya ada dua orang yang maju dalam pemilihan PM. Namun satu hal yang jelas : rakyat di negara maju memiliki tingkat pengharapan yang lebih tinggi terhadap pemimpinnya karena mereka memang mereka telah berada pada tahap kemapanan (phase of maturity). Logis, tuntutan mereka akan lebih tinggi dan karenanya mereka butuh orang berpengalaman seperti Howard. Oleh karenanya juga, mereka tidak butuh orang baru yang berpotensi menghancurkan kemapanan tersebut. Jika kemudian Howard harus turun, maka itu lebih merupakan masa decline dalam karir politik Howard yang panjang.

Di saat bersamaan, rakyat di sana juga realistis. Sama seperti rakyat AS yang lebih memilih Clinton daripada Bush, rakyat AS juga bisa memilih kembali George W. Bush daripada orang baru John Kerry. Sistem pergantian presiden AS secara jelas memperlihatkan pemilihan presiden berikutnya sebagai uji kinerja incumbent.

 

Pelajaran lain apa ?

Justru incumbent memiliki kedudukan awal lebih baik dari siapapun pesaingnya selama dia bisa memanfaatkan posisi itu sebaik-baiknya. Begitu banyak celah dan strategi untuk berkarya. Hanya perbedaan yang sangat mencolok, misalnya dari umur, visi, dan atau pesona pribadi calon lainnya yang sangat spesial, yang bisa menggoyahkan posisi tersebut.  SBY sendiri pernah menyebutkan betapa kedudukan Megawati sebagai incumbent pada waktu pemilihan presiden lalu memberi keunggulan tersendiri baginya.

Apalagi sebagai negara dengan begitu banyak masalah, rakyat sebenarnya bisa mengukur secara realistis pencapaian pemimpinnya. Di sisi lain, sangat mungkin dengan begitu banyak masalah dan perjalanan reformasi yang masih berupaya menemukan jati diri ini bisa memberikan ruang yang cukup bagi presiden untuk bermanuver. Hanya saja manuver yang ditunggu bukanlah manuver sesaat atau polesan belaka apalagi sekadar apologi.

 

www.kompas.com

Edisi Cetak- Rubrik Opini

 


Blog EntryLangkah Kuda SutiyosoNov 10, '07 8:30 PM
for everyone

                                    LANGKAH KUDA SUTIYOSO ?

                                                    Donard Games

 

 

            Rabu, 10/10/2007 - Tepat pada 1 Oktober lalu, Sutiyoso mengumumkan keinginannya untuk maju dalam pencalonan sebagai Presiden RI dalam pemilihan umum 2009. Sebagaimana diberitakan Sindo pada 2 Oktober lalu, Sutiyoso merasa tidak gentar dan siap bersaing dengan siapapun dalam pemilihan presidenn anti seraya dengan lugas menyebut dukungan padanya cukup signifikan dari sejumlah pihak dan diapresiasi banyak orang terbukti dari kehadiran banyak tokoh penting di saat momen pendeklarasiannya.

            Ada beberapa catatan menarik yang bisa disampaikan sehubungan dengan pencalonan sosok yang memimpin Jakarta dalam dua periode kepemimpinan ini. Pertama, memang benar ini bukan deklarasi pencalonan diri sebagai calon presiden yang pertama, tapi ini adalah pencalonan presiden pertama yang belum memiliki kendaraan politik alias partai politik dalam pemilihan nanti. Sebelumnya ada Megawati Soekarno Putri yang sudah dapat dipastikan didukung sepenuhnya oleh PDI-P. Sementara pencalonan Abdurrahman Wahid dianggap tidak mengejutkan karena pengaruh kuatnya di PKB meskipun kepastiannya tidak sebesar Megawati karena alasan kesehatan dan atau undang-undang.

            Inilah kecerdikan Sutiyoso yang memang taktis dan berorientasi tujuan. Dia tahu bahwa dirinya tidak punya sandaran partai politik, tapi dia juga paham bahwa dalam konstelasi politik semua hal termasuk pencalonan dirinya adalah kemungkinan. Sebagian orang menyebut bahwa pendeklarasian Sutiyoso ini terlalu awal dan berani sementara pemilihan masih jauh dan bahkan partai politik peserta pemilihan umum pun masih belum ditetapkan. Namun demikian, justru dengan pencalonannya yang belum didukung oleh partai peserta pemilihan umum serta waktu yang relatif masih lama menjelang 2009 akan menjadikan kesempatannya menjadi terbuka untuk dipertimbangkan oleh partai politik. Sebuah lompatan lainnya setelah sebelumnya dia di luar bayangan banyak orang mampu memenangkan hati PDI-P untuk bisa maju pada periode kedua gubernur Jakarta.

            Alasan kedua yang menjadikan pencalonan Sutiyoso menarik untuk dibahas adalah karakter pribadi dan gaya kepemimpinannya yang berbeda dan bisa menjadi alternatif. Karakter pribadi yang suka kerja keras, percaya diri, berorientasi tujuan, dan memiliki pandangan bahwa dirinya bisa berperan besar menentukan nasibnya sendiri (konsep locus of control). Lihat saja di halaman depan situs resminya (www.bangyos.com), Sutiyoso dengan lugas menyebut, “Kalau orang lain bisa, mengapa Saya tidak bisa. Kalau orang Belanda di Amsterdam keliling kota pakai feri bisa, mengapa kita tidak bisa? Sutiyoso sendiri pernah menyebut dirinya nekad jadi tentara mekipun keluarganya tidak setuju dan baru pulang ke rumah setelah dia sudah berhasil masuk Akabri. Tapi dia juga pragmatis dan oportunis. Dia tidak menolak kemungkinan dirinya menjadi menteri dalam negeri sampai akhirnya dia mendapat sinyal yang jelas dari SBY bahwa dia bukan orangnya.           

Gaya kepemimpinannya melekat dengan citra kejelasan dan ketegasan terutama di periode kedua jabatannya sebagai gubernur.  Tidak dapat disangkal bahwa tidak banyak pejabat politik dari kalangan eksekutif di Indonesiaa saat ini yang sikapnya sejelas dan setegas Sutiyoso. Kekerasan hatinya menerapkan proyek Busway sudah menjadi pengetahuan orang. Dia juga tidak segan-segan menunjukkan kecenderungan sikapnya. Sebagai contoh, Sutiyoso tidak menutupi kejengkelan hatinya dan bahkan menghubungkannya dengan nasionalisme bangsa Indonesia ketika pihak keamanan di Sydney berupaya menginterogasinya seputar masalah Timor Leste. Dia juga tidak menyembunyikan keinginan pribadinya yang mengharapkan wakilnya Fauzi Bowo sebagai gubernur Jakarta pengganti dirinya.

 

 

 

 

            Ketegasan dan kejelasan inilah yang tampaknya akan menjadi senjata bagi Sutiyoso dalam pencalonannya. Sebagian pihak menyebut bahwa prestasi Sutiyoso sebagai gubernur tidak dapat dikatakan cemerlang karena tiga indikator dianggap tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, yaitu : masalah banjir, kemacetan lalu lintas dan kesejahteraan penduduk Jakarta. Belum lagi keraguan publiK atas peran militernya di masa lalu dan isu politik uang. Meskipun begitu, Sutiyoso juga  mengetahui bahwa ada keinginan dari banyak orang terhadap ketegasan dan kepastian dari pemimpinnya; sesuatu yang sepertinya juga dirindukan orang dari kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK)

Padahal, pasangan SBY-JK adalah pasangan hasil pemilihan umum yang relatif bersih dan ini yang penting : dipilih langsung oleh rakyat. Rakyat memercayai mereka untuk mengambil keputusan-keputusa penting yang menyangkut hidup mereka. Orang pada dasarnya meyakini bahwa SBY adalah orang pintar dan dapat dipercaya. Namun ada kegamangan dari SBY dalam mengambil keputusan sebagaimana kehati-hatiannya dalam berhadapan dengan parlemen dan partai politik. Ada keputusan politik presiden yang benar tapi terlalu lama keluarnya, seperti penggantian menteri dalam negeri yang dibiarkan kosong terlalu lama dan keputusan tentang nasib dan penanganan IPDN. Ada juga keputusan yang memang membutuhkan ketepatan dan kecepatan sedari awal, seperti misalnya, masalah lumpur Sidoarjo.

Oleh karena itu, tidak heran ketika mengumumkan keinginannya menjadi calon presiden, Sutiyoso mengangkat isu yang dianggap jelas dan kuat untuk publik. Tentu saja dia juga mengangkat perihal kekecewaannya dan kekecewaan banyak orang perihal jalannya reformasi, tapi Sutiyoso tidak lupa mengangkat isu kongkret dan juga populer, yaitu nasionalisme. Itu ketika dia dengan bersemangat menyebut  dirinya akan mengurangi intervensi asing terhadap seluruh dimensi kehidupan di Indonesia. “Kalau sampai sistem ekonomi maupun politik Indonesia diintervensi, harga diri bangsa kita akan jatuh”, katanya (Seputar Indonesia, 2 Oktober).

Perjalanan politik Sutiyoso selanjutnya setelah menjadi gubernur sudah (resmi) dimulai. Dia tentu sudah siap dengan segala konsekuensinya. Tinggal lagi tanggapan masayarakat dan terutama partai politik peserta pemilihan umum, apakah mereka melihat Sutiyoso sebagai alternatif, atau melirik kepadanya nanti di saat-saat terakhir atau malah melupakannya. Jika nanti dalam perjalanannya Sutiyoso diharuskan memilih posisi yang lebih rendah, misalnya, posisi  wakil presiden atau sebagai menteri dari presiden terpilih, itu adalah kemungkinan-kemungkinan lanjutan yang perlu dicermati dari langkah Sutiyoso kali ini.

 

 

Donard Games, Pengamat Sosial Politik, Pengajar di Universitas Andalas Sumatera Barat

 

 http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ opini-sore/ langkah-kuda- sutiyoso. html

 


Blog EntryKepemimpinan ala WirausahaNov 10, '07 5:38 PM
for everyone

 

Kepemimpinan  ala Wirausaha

Donard Games

 

Sindo-Rabu 07/11/2007- Satu lagi model kepemimpinan yang kembali mendapat momen untuk ditampilkan kembali adalah pemerintahan berjiwa wirausaha (entrepreneurial government) ala Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad. Ini berkat keberhasilannya mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu administrasi negara dari Univesitas Gadjah Mada setelah mempertahankan desertasinya yang berjudul ”Signifikansi Peran Manajemen Kewirausahaan Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah: Studi Kasus Provinsi Gorontalo. Terlepas dari pencapaian akademik dan riset yang dilakukannya, keberhasilan Fadel mendapatkan gelar doktor sangat ditentukan oleh anggapan kesuksesannya dalam mengubah mainstream birokrasi dari model birokrat menjadi model wirausaha  (Sindo, 28 Oktober).

 

Benar, bahwa pemerintahan bercorak wirausaha ini bukan hal yang baru lagi. Sudah bvanyak bahasan para ahli tentang kemungkinan dan manfaat menerapkan gaya kepemimpinan seperti ini, namun tetap saja apa yang dilakukan oleh Fadel Muhammad ini memiliki nilai lebih karena secara langsung dan meyakinkan dipraktikkan di dalam pemerintahannya.

 

Lebih rinci lagi, ada beberapa poin mendasar yang membuat entrepreneurial government di Gorontalo ini menjadi menarik dan pantas diperhatikan. Pertama, implementasinya dilakukan di provinsi yang baru saja lahir dan relatif memiliki keterbatasan sumber daya. Bagi orang yang berpikiran realistis plus pesimistis, kenyataan ini memunculkan adanya perasaaan ketidakpastian terutama apakah penerapan nilai-nilai baru termasuk perubahan budaya kerja di pemerintahan bisa diterima dan berjalan baik. Sebaliknya, bagi pribadi dengan karakter kuat malah akan melihat aspek ini sebagai kesempatan untuk memimpin provinsi baru ini akan menjadi awal yang baik untuk mulai membangun fondasi pemerintahan yang cocok dengan apa yang dibayangkan sebelumnya.

 

Untuk pendapat yang terakhir ini, pengalaman di negara-negara maju bisa menjadi pembenaran. Di pemerintahan yang mapan dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi mengakibatkan tingginya tingkat pengharapan yang besar dari warganya.  Padahal bukan hal yang mudah bagi pemerintahnya untuk bermanuver untuk melakukan inovasi-inovasi di tahapan tersebut. Di salah satu negara bagian Australia, Queensland, misalnya, ketika sebagian gubernur masih mengeluhkan produktifitas warganya termasuk aparat birokrasi, pemerintah Queensland baru-baru ini sudah lebih jauh lagi dengan membahas Daylight Saving Time, yaitu kemungkinan membuat kesepakatan bersama untuk memajukan jam kerja yang terutama bisa mendukung para pebisnis. Ketika kita bicara tentang infrastruktur rumah sakit, mereka telah bicara tentang penambahan tempat tidur rumah sakit yang dirasa proporsional. Ketika kita (dulu) mengkampanyekan penghematan energi, mereka telah  menerapkan kebijakan pengurangan pemakaian air (water restriction) yang berhasil menghemat jutaan liter air per hari.

 

Poin penting lainnya yang perlu dicatat dari kepemimpinan ala Fadel Muhammad adalah gubernur Gorontalo ini memulai kepemimpinannya dari arah yang benar, yaitu visi dan misi yang jelas. Ini lalu bermuara pada kesimpulan bahwa inovasi adalah kunci sukses terutama sedari awal sehingga masyarakat termasuk birokrasi yang ada cepat mafhum. Fadel secara cepat menganalisa kekuatan Gorontalo yang bisa dieksplorasi untuk secara cepat meningkatkan kesejahteraan masyartakat adalah pada komoditas jagung dan perikanan. Ia juga bisa melihat celah yang bisa meningkatkan kesejahteraan PNS di daerahnya secara signifikan tanpa mengorbankan aspek peningkatan kinerja mereka.

 

Selanjutnya, kepemimpinan membutuhkan keseimbangan antara visi seorang usahawan dan visi birokrat.  Secara ekstrem, usahawan yang menjadi kepala daerah akan memasukkan nilai-nilai dan naluri mendasarnya, yaitu antara lain : sangat berorientasi pada hasil, pengambil risiko, dan mengutamakan aspek kuantitatif  laba dan pertumbuhan. Sementara titik ekstrem lainnya, kepemimpinan ala birokrat secara tradisional lebih mengutamakan prosedur dan efisiensi. Adalah tidak mudah untuk memadukan dua titik tersebut sebagaimana tidak mudah merangkul elemen birokrasi maupun masyarakat untuk dapat menerima perubahan tersebut. Ketekunan Fadel untuk menemukan struktur organisasi yang tepat di pemerintahannya dapat dilihat dalam kerangka sebagai bagian usahanya memasukkkan kultur berorientasi pada fungsi yang meberikan kepuasan konsumen (warga negara).

 

Kegagalan dalam mengkomunikasikan dan memadukan visi dan misi bisa menyebabkan kegagalan pemerintahan ala wirausaha. Dan ini lebih banyak berkaitan dengan seni kepemimpinan yang bersangkutan. Seorang mantan bupati yang berlatar belakang pengusaha dianggap sebagian warganya sebagai pribadi yang arogan karena terlalu blak-blakan, tidak mendukung pendidikan gratis, dan berlaku bak saudagar ketika mendepositokan sebagian dana APBD. Padahal menurut pengakuan yang bersangkutan pada penulis, semua itu dilakukannya selain karena karakter pribadi juga karena pendekatan prinsip kewirausahaan yang ingin diterapkannya dalam pemerintahan.

 

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika perihal kepemimpinan ini diurusi oleh pihak-pihak yang sadar akan betapa pentingnya hal tersebut. Sudah saatnya, pemimpin yang maju dalam pemilihan kepala daerah, misalnya, haruslah yang benar-benar mengetahui apa yang semestinya dia lakukan dan secara objektif mampu menciptakan perubahan. Ketika seorang Fadel mendatangkan tenaga ahli dari Jawa sebagai konsultan struktur organisasi pemerintahannya dan mencari tahu sebanyak mungkin tentang pengembangan produk unggulan daerahnya, jagung dan ikan, maka itu hanya bisa lahir dari pribadi yang mau berpikir logis dan bertindak sesuai dengan konsekuensi logika tersebut. Begitupun dengan partai politik, seharusnya mulai mencermati pribadi-pribadi dengan karakter kuat dan bukan hanya  karena calon yang akan diusungnya populer dan kaya.

           

      Tulisan ini ingin ditutup dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh Prof Dr Sofian Effendi yang dalam kapasitasnya sebagai penguji desertasi Fadel Muhammad, yaitu apakah keberhasilan seorang Fadel Muhammad dalam teori kepemimpinan ala Fadel di Gorontalo bisa diaplikasikan dengan baik di kancah pemerintahan nasional ?  Ini pertanyaan retorik yang (mudah-mudahan) akan berguna dalam mengevaluasi kinerja kepemimpinan ala kepemimpinan nasional saat ini.

 

 

Donard Games, Pengamat Masalah Sosial, Pengajar di Universitas Andalas Padang

 

 

 

__________________________________________________

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.