Semangat Kewirausahaan untuk Kaum Muda
Sulit untuk membantah bahwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 bermakna penting dalam perjalanan bangsa ini. Memang sebelumnya sudah ada Manifesto Politik 1925 dari Perhimpunan Indonesia di Belanda yang mengangkat isu universal kebebasan, kemerdekaan, dan persamaan, tetapi Sumpah Pemuda yang dilakukan tiga tahun kemudian memunculkan isu yang tidak kalah pentingnya bahkan bisa jadi lebih relevan: nasionalisme dan persatuan bangsa. Untuk suatu bangsa yang sedang diperjuangkan, tidak bisa tidak bahwa kebulatan tekad seperti itu sangat penting.
Semangat itulah yang pada saat ini memilik relevansinya untuk ditumbuhkembangkan melalui proses transformasi, yaitu: semangat kewirausahaan. Dalam artian luas, ini adalah semangat untuk menjadi agen perubahan dengan menampilkan karakteristik khas seorang wirausaha : berani mengambil risiko, pandai memanfaatkan peluang, dan sabar. Semangat ini bukan hanya milik (calon) pengusaha tetapi juga milik para professional dalam organisasi (intrapreneurship). Khusus bagi kaum muda, ini juga sangat berkaitan erat dengan mental yang dimiliki oleh mahasiswa dan aktivis muda lembaga swadaya masyarakat.
Semangat Kewirausahaan Mahasiswa
Kaum muda sendiri bukannya tidak memiliki keresahan untuk berbuat sesuatu. Dan mereka tampaknya belajar sesuatu dari masa lalu. Salah satunya bisa dilihat dari pergerakan kaum muda terpelajar Indonesia. Pada 22-24 Juni lalu kaum muda & pelajar Indonesia di Eropa dan Asia bertemu di Den Haag-seakan menapaktilasi manifesto 1925-dan menyerukan perwujudan keadilan dan kesejahteraan dengan…menciptakan demokrasi ekonomi yang berbasis sumber daya lokal…. Dua bulan setelah itu giliran di Sydney diadakan Konferensi Internasional Pelajar Indonesia dengan mengusung tema lebih kongkret, yaitu: pulang atau mengabdi dari jauh? Suatu tema yang kembali mengakar pada masalah nasionalisme ; apakah hidup sebagai “warga dunia” di luar Indonesia dan tidak mewakili kepentingan bangsa tidak bertentangan dan atau malah selaras dengan kecintaan terhadap bangsa Indonesia
Menjadi menarik bahwa kedua peristiwa itu diselenggarakan oleh kaum muda di luar negeri dan mereka sebagian besar adalah mahasiswa penerima beasiswa studi luar negeri. Ini menyiratkan suatu dorongan dari dalam diri mereka sebagai intelektual dan orang-orang pilihan yang mendapatkan kesempatan yang sangat bernilai tinggi untuk bisa studi di luar negeri. Umumnya penerima beasiswa ini berjuang keras dan berliku untuk mendapatkan beasiswa yang memang biasanya sangat kompetitif. Setelah berhasil mereka juga tetap terus berjuang untuk mengatasi tantangan belajar dan hidup di luar negeri.
Tempaan seperti itu yang membuat mereka tangguh dan berani. Warren G. Bennis dan Robert J. Thomas (2002) mencatat bahwa kemampuan mengolah pengalaman yang berharga dalam hidup akan mengubah seseorang dari logam menjadi emas. Itu berarti yang muncul adalah sosok pemimpin yang sebenarnya, yaitu sosok yang memiliki visi hidup yang jelas plus kemampuan untuk tidak mementingkan diri serta menghargai orang lain.
Potret dari Sumatera Barat
Berdasarkan survei dari Disnakertrans Sumatera Barat tahun 2006, 74% kaum muda Sumatera Barat ingin jadi pegawai negeri sipil (detik.com/ 12 Juli 2007). Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi menganalisa itu karena kondisi bisnis yang tidak menentu sementara pegawai negeri menjanjikan penghasilan tetap meskipun tidak bisa kaya. Penulis sebagai pengajar di Jurusan Manajemen Universitas Andalas juga pernah melakukan penelitian sederhana tentang minat mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Andalas untuk menjadi wirausahawan dan hasilnya 67 % mengaku berminat menjadi wirausahawan, tapi itu setelah tidak mendapatkan “pekerjaan” dan kalau direstui orang tua.
Kita berbicara tentang Sumatera Barat yang identik sebagai penghasil pedagang tangguh dan ulet. Kita juga berbicara tentang daerah penghasil orang-orang yang turut mewarnai perjalanan bangsa ini. Tidak ada salahnya berkeinginan jadi pegawai negeri karena intrapreneurship juga penting, tapi jika itu menjadi pilihan mayoritas dengan alas an takut terhadap tantangan, maka kita bisa katakan itu bukan karakter orang-orang yang bisa diharapkan jadi pembawa perubahan.
Jika kita menyepakati bahwa semangat kewirausahaan adalah dorongan dari dalam diri pribadi untuk bisa memberi perbedaan dari rangkaian proses yang membentuk karakter-karakter pendukungnya, maka figur Bung Hatta dari Sumatera Barat bisa selalu menjadi contoh yang sempurna dalam hal kepemimpinan bangsa . Di umur 20 tahun beliau Hatta sudah aktif di Perhimpunan Indonesia di Belanda dan umur 43 tahun sudah menjadi Wakil Presiden RI. Beliau memberikan keteguhan hati, niat baik, kejujuran dalam konsistensi tingkat tinggi. Itulah yang membuatnya berbeda karena itu ditempa serangkaian pengembaraan dalam hidup : dari surau di kampung, Bukittinggi, lalu melanjutkan studi ke Padang lalu Jakarta dan Belanda.
Melangkah ke Depan
Tampaknya diperlukan suatu pengalaman baru dari individu kaum muda di Indonesia untuk dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan. Itu bisa berarti tempat baru, tantangan baru, ataupun pengalaman baru. Hanya saja, untuk zaman dengan teknologi tinggi dan kesempatan mengakses informasi seperti saat ini tidak mesti merantau seperti budaya Minang. Seseorang bisa saja meningkatkan kapasitas diri dan mendapatkan pencerahan tanpa harus berpindah tempat, berpindah-pindah kerja atau dari kegagalan terus-menerus. Belajar dari orang lain juga tidak mesti bertemu langsung. Jika seseorang ingin mendapatkan inspirasi dari karakter unik Pengusaha Bob Sadino atau Inovator Onno W. Purbo, dia bisa mendapatkan itu dari buku atau dengan menjelajahi internet. Mencari sosok seperti Bung Hatta mungkin lebih susah lagi, tapi inspirasinya tetap bisa didapatkan.
Ketika kaum muda Indonesia berkumpul dan mendeklarasikan aspirasinya pada tahun 1925 dan 1925, mereka mungkin tidak menyadari itu akan menjadi momen yang dikenang terus. Bisa jadi saat itu mereka juga gelisah dan merasa sesuatu harus dilakukan untuk mengatasinya. Percayalah, itu juga hasil dari pengalaman dan pergumulan pemikiran mereka sebelumnya. Sejarah yang akan mencatat apa yang disumbangkan kaum muda saat ini.
Donard Games, Pengajar di Universitas Andalas Padang